Posts Tagged ‘cerita’

Paku dan Hati

29 Mei 2008

***terinspirasi oleh cerita yang saya sudah lupa dimana sumbernya

Pada suatu ketika ada seorang bapak yang bijak mempunyai seorang anak perempuan, si anak ini mempunyai cita-cita yang mulia dengan merubah kelakuan hidupnya. Bapaknya menanggapi dengan suka cita, hampir semua perbuatan baik si anak lakukan namun hanya satu hal yang belum bisa ia tinggalkan, yaitu masalah cinta. Perempuan itu belum bisa mengalahkan hatinya yang selalu goyah bila bertemu dengan cowok lain, perempuan itu mempunyai catatan buruk masa kelam tentang cinta dan dia ingin memperbaikinya dengan sepenuh hati namun belum bisa.

Si anak tersebut mengeluh pada bapaknya karena dirinya belum bisa merubah kelakuan yang tidak baik tentang romantisme hidup. Bapaknya hanya menjawab “bersabarlah nak…”. haripun berganti, bulan beriringan muncul. suatu ketika ada lelaki sebelah desa yang menyatakan cinta nya pada anak perempuan, dalam kebimbangan dan ketakutan masa lalu bapaknya berkata “nak, hari ini ada seorang lelaki yang cinta padamu. bapak tau engkau mempunyai kenangan buruk masa lalu, dan sekarang engkau ketakutan akan mengulanginya lagi. untuk itu jikalau engkau melukai hati lelaki itu pakulah tembok mu dengan satu paku. dan jika engkau bisa membuat dia senang cabutlah paku itu”

Anak perempuan itu setuju dengan saran dari bapaknya, maka di terimalah cinta lelaki itu. pada awal pacaran mereka berdua adem ayem loh jinawi…. selang beberapa bulan perempuan itu membuat kesalahan, satu paku ia tancapkan di dinding. esoknya ketika bangun dari tidurnya perempuan itu melihat diding kamarnya di dalam hatinya ia berpikir “ah baru satu paku kok, masih banyak ruang yang tersisa” kemudian pagi itu juga dia mulai berbong untuk meutupi kesalahanya kemarin, begitu juga selanjutnya. kebohongan yang dia buat sungguh banyak hingga paku yang di tancapkan sangatlah banyak.

Karena risih dan kasihan dengan lelaki itu maka si perempuan itu berterus terang dengan lelaki tersebut. Lelaki itu akhirnya memaafkan kesalahan perempuan itu dan perempuan itu berjanji tidak akan melukai lelaki itu lagi. senyuman dan perhatian yang lebih ia tujukan kepada lelaki itu, amat berbunga-bunga hati lelaki itu. maka satu demi satu paku ia cabuti, meski belum semua paku ia cabut tapi hanya sedikit paku yang menancap di dinding paku. Hari demi hari ia lalui dengan rasa cintanya pada lelaki pujaan hatinya, dan semakin sedikit paku yang menancap sekarang.

Di pagi hari ketika bangun dia tersenyum melihat paku yang menancap di dinding kamarnya “sungguh sedikit oey” begitu hatinya berbicara, “aku bangga pada diriku sendiri”

Entah karena terlalu senang dengan kesalahan yang dia buat, perempuan itu mulai lalai lagi. cinta pada lelaki itu mulai luntur dan dia muali beranjak pada lelaki lain. Memang dia pernah mempunyai catatan buruk dulu, namun sekarang sepertinya ia ulangi lagi… ia mencuri-curi waktu untuk bertemu dengan lelaki lain, berbohong pada kekasihnya. hingga pada saat mau tidur ia mulai kebingungan karena paku yang memancap di dinding kamarnya sunggu banyak hingga kelihatan menjijikkan jika di lihat. Tengah malam hari ia mulai tersadar akan ke khilafan itu, akhirnya ia sadar dan berjanji (lagi) tidak akan mengulanginya. diapun mengaku bersalah dan meminta maaf pada kekasihnya, untung saja kekasihnya memaafkanya dan memberinya kesempatan.

Satu demi satu paku ia cabuti, dan hari demi hari ia berjanji ketika bangun tidur akan selalu mengurangi paku yang menancap di dindingnya. walhasil paku di dindingnya kini sudah habis yang tinggal hanyalah bekas tancapan nya saja dan ia pun bangga. Kebanggan bagi dirinya karena ia berbuat baik sekarang, diapun kemudian menceritakan kesuksesanya pada bapaknya.

bapaknya yang bijak itu bertanya pada anaknya, “wahai anakku taukah kamu maksud dari paku dan dinding itu”, si anak menjawab “terangkanlah wahai bapakku”. bapak itu menyambung lagi “bagaimana dengan nbekas pakunya, apakah masih ada?”. “Masih dan mungkin butuh waktu yang lama untuk nmanambal goresan bekas paku itu” jawab anak, bapaknya menghela nafas dalam… “andaikan paku itu adalah kamu dan dinding itu adalah hati lelaki, bagaima menurutmu anakku?” perempuan itu menjawab….. “…….(mungkin karena terbawa esmozi dia tidak bisa menjawab)”

“itulah sebabnya kita di suruh berbuat baik dengan orang lain, suatu kesalahan akan di maafkan tapi tidak akan di lupakan anakku”

Dari awal mengenal linux

16 Mei 2008

menarik sekali rame-rame kemarin, saya dapat masukan (lagi) dari nick udej_hacker yang intiya di suruh untuk belajar bukan hanya ubuntu. memang saya akui kebanyakan isi blog saya Ubuntu based, namun di balik itu semua sebenarnya saya sendiri bukan maniak ubuntu, atau orang yang hidup mati ubuntu.

begini, saya dulu bahkan sebelum ubuntu rilis saya terbiasa make opensuse dan fedora, masih teringat sekali di hati saya ketika saya menyimpan dengan baik CD Mandrake 7, Fedora 4, Suse 8. dan walhasil hanya Suse yang saya intsall, walaupun untuk keperluan live cd saya lebih condong ke kate os.

hari pun berganti, demikian juga dengan tahun…. teman saya (ashadebi) mengajak untuk mencoba debian. Debian sargelah yang membuat saya begitu terpesona akan kemudahan ke indahan arsitektur OS linux. pada saat masa-masa pembelajaran debian saya dengan gencar mencari komunitas debian-id yang ternyata belum di temukan akhirnya saya cuman liat-liat komunitas debian lain. pada waktu yang berdekatan guru linux saya kemudian memberi sebuah cd live ubuntu breezy, ahoi! indah nian breezy…. tapi saya masih pake debian untuk keperluan desktop saya, dan ubuntu hanya sebagai sambilan mengingat waktu itu saya punya debian repo dan belum punya ubuntu repo.

Dapper Drake pun muncul, akhirnya dialah yang menggantikan dekstop saya. sarge masih saya gunakan di server saya. saya masih belum beranjak dari debian untuk server. hm…. mungkin karena harware server kali :p akhirnya sampai tulisan ini saya publikasikan saya masih setia menggunakan ubuntu dan debian di server, namun (masih) memakai OpenSuse+Knoppix untuk live cd :D hm… untuk router saya pake mikrotik kok

jadi begitulah, intinya saya bukan mendewakan ubuntu, saya cuma membuat coretan-coretan yang (kebanyakan ubuntu) sesuai dengan yang saya pahami dan banyak dukunganya. Ubuntu melalui komunitas ubuntu-id nya telah mendidik saya untuk selalu membuat artikel yang bermanfaat bagi anak bangsa. dan itulah kelebihan ubuntu. entah lagi mujur atau ketiban durian matang akhirnya komunitas debian-id muncul, gayungpun di sambit betapa senangnya saya melihat debian indonesia! akhirnya sayapun ikutan ke situ….

begitlah saya, intinya saya hanya menulis tantang apa yang sedikit saya pahami saya. bukanya saya anti menulis Suse dkk namun saya hanya takut ketika saya habis nulis kemudian ditanya tentang Suse dll wah saya tidak tahu kalo itu. paling jawabnya “pake konsole aja jangan desktop :D”

jadi bila suatu saat nanti kita belajar suatu distro linux usahakan untuk tau distro lainya minimal turunanaya saja dan jangan lupa goreslah pengalaman anda di atas kibor biar suatu saat anak bangsa tau akan pengalaman kita dan tidak ikut melakukan kesalahan. dengan memberikan pengalaman tentunya kita sudah menabung sedikit pahala untuk hari nanti.

istriku, cintaku..

25 Desember 2007

#! terinspirasi dari sangprabo

#! jangan membaca tulisan ini apabila anda sedang tidak bergairah. ingat merokok tidak baik untuk kesehatan

walaupun diriku belum menikah, namun sebenarya saya punya istri simpanan yang lumayan banyak… silakan di hitung dan di pahami, siapa tahu anda mengenalnya, tapi jangan sekali2 selingkuh dengannya

Bismillahiroohmanirrohiem, ngudubillahiminassyaitonirrojiem

amma ba’du

saya perkenalkan satu demi satu…

0. Si Susi… Bukan nama sebenarnya

Susi sayang… dengan dirimu hariku terasa indah, denganmu pula aku mengenal dunia, dunia yang selama ini aku lihat dari balik kaca mobil. denganmu aku mulai mengerti arti perhatian dan kasih sayang… engkau menemaniku 6 tahun yang lalu, kamu sepat berpisah 2 tahun lalu. hal ini di kerenakan studiku yang berada jauh di sono. engkau tangguh, walau kadang engkau sering kulupakan…walau kau sekarang sudah tua, namun engkau tetep berusaha tegar di hadapanku, maafkan aku susi telah menelentarkanmu… ku percaya susi akan setia padaku.. sus… i misss you..

1. Si Nisa..

Nisa.. nama yang indah seindah wujudmu. perempuan ini saya jadikan istri saya 3 tahun yang lalu, perkenalan kami tidak lama, tanpa pacaran, karena dia anti pacaran (dilarang ustadz katanya). kami kenal di Jember, pasnya di toko peralatan gunung, aneh bukan? dia memang aneh, kekuatanya untuk menjelajahi hidup ini tak terelakkan kuatnya. diapun tegar ketika aku ajak jalan-jalan ke sana-sini. pernah suatu ketika dia kuajak ke solo-jember-jogja-sby non-stop dan dia cuma senyum!! namun sayangnya dia butuh perhatian yang serius, jangankan di cuekin.. tidak di sms sehari aja dia sudah marah, maklum dia yang paling “binal’ diantara istriku..

2. Khotidjah

Pengetahuan yang luas dan friendly yang menjadi trade mark nya. khotidjah bukan tanpa cela, dia cuma kurang di kenal saja. namun dari situ dia menyadari kalo dia adalah unperfect, hingga dia belajar. khotidjah di kenalkan oleh bapakku, dia tak banyak omong, juga tak banyak tuntutan… sayangnya dia akan ngembek kalo aku lagi bokek.. maklum agak matre.. dia yang paling sholihah dan paling alim

3. Si Fatimah..

Fatimah… engkau seperti Susi, hanya saja engkau lebih pengertian ke padaku, perhatian nya yang lebih kepadaku harus ku bayar mahal dengan duit yang mahal. namun dia tak tanggung tanggung untuk memberikan semua yang di milikinya untukku, pernah suatu saat dia kehabisan tenaga, namun masih aja mau memberikan tenaganya. dia pertama kali kenal ku hanya bermodalkan baju dan rok yang dia miliki. namun sekarang dia cukup bangga, dia berubah ketika denganku. bukan hanya tamppilan jasad yang berubah, namun juga kepribadian, cara berfikir dan lainya.. walaupun dia dari keluarga Bonafid, namun dia cukup merendah.. sayang nya dia pemarah alias gampang panas… pernah aku ketahuan menyimpan foto2 selingkuhanku, dia marah dan membakar semua foto2 selingkuhanku dasar pemarah… ah tapi itu tidak sebanding dengan pengabdianya padaku. denganya aku sekarang menjadi “aku” yang dapat di ceritakan ke pada keluarga besarku.

Amma ba’du,

diantara istri2ku yang paling banyak hafalan Al-Qur’an adalah Si Fatimah..

Di antara istri2ku yang memiliki kelebihan adalah si Khotidjah..

Di antara istri2ku yang memiliki ketabahan adalah Nisa..

Di antara istri2ku yang memiliki keloyalitasan si Susi..

Ya Allah engkau telah berikan aku istri2 yang baik… Syukur Alhamdulillah..

songo papat punjul enem,menawi wonten kelepatan kulo nyuwun ngapunten

Wassalam

#! tapi aku mau lagi ya Allah

#! semua nama, kota dan kejadian bukan pada tempatnya… hanyalah suatu hayalan tingkat tinggi saja

Al-Balkhi dan Si Burung Pincang

14 Mei 2007

Alkisah, hiduplah pada zaman dahulu seorang yang terkenal dengan kesalehannya, bernama al-Balkhi. Ia mempunyai sahabat karib yang bernama Ibrahim bin Adham yang terkenal sangat zuhud. Orang sering memanggil Ibrahim bin Adham dengan panggilan Abu Ishak.

Pada suatu hari, al-Balkhi berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak ketinggalan ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun belum lama al-Balkhi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya. Padahal negeri yang ditujunya sangat jauh lokasinya. Ibrahim bin Adham yang saat itu berada di masjid langsung bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya. “Wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?”

Baca entri selengkapnya »

Sebelas karakter orang yang mempunyai konsep diri positif

14 Mei 2007

Sebelas karakter orang yang mempunyai konsep diri positif: (Psikologi Komunikasi, Jalaluddin Rahmat):

Baca entri selengkapnya »

Kumpulan e-book’s Islam

20 April 2007

Balasan Kesabaran

10 Februari 2007

Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata : “Anak laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Salamah meninggal dunia. Maka isterinya berkata kepada keluarganya, ‘Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang kematiannya, sampai aku sendiri yang mengabarkannya!’ Anas bin Malik berkata, ‘Abu Thalhah datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan dan minum’, Anas berkata, ‘Sang isteri kemudian berdandan indah bahkan lebih indah dari waktu-waktu yang sebelumnya. Setelah dia merasa bahwa Abu Thalhah telah kenyang dan puas dengan pelayanannya, sang isteri bertanya, ‘Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya, apakah mereka berhak menolaknya?’ Ia berkata, ‘Tidak (berhak)!’ ‘Jika demikian, maka mintalah pahalanya kepada Allah tentang puteramu (yang telah diambilnya kembali)!, kata sang isteri. Suaminya menyergah, ‘Engkau biarkan akau, sehingga aku tidak mengetahui apa-apa, lalu engkau beritakan tentang (kematian) anakku?’ Setelah itu, ia berangkat mendatangi Rasulullah SAW lalu ia ceritakan apa yang telah terjadi. Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Semoga Allah memberkahi kalian berdua tadi malam’. Anas berkata, ‘Lalu isterinya mengandung dan melahirkan seorang anak. Kemudian Abu Thalhah berkata kepadaku, ‘Bawalah dia kepada Nabi SAW’. Lalu aku bawakan untuknya beberapa buah kurma. Nabi SAW lalu mengambil anak itu seraya berkata, ‘Apakah dia membawa sesuatu?’ Mereka berkata, ‘Ya, beberapa buah kurma’, Nabi SAW kemudian mengambilnya dan mengunyahnya, lalu diambilnya dari mulutnya, kemudian diletakkannya di mulut bayi itu dan beliau menggosok-gosokkannya pada langit-langit mulut bayi tiu, dan beliau menamainya Abdullah.” (HR. Al-Bukhari, 9/587 dalam Al-Aqiqah, Muslim no. 2144).

Dalam riwayat Al-Bukhari, Sufyan bin Uyainah berkata : “Seorang laki-laki dari shahabat Anshar berkata, ‘Aku melihat mereka memiliki sembilan anak. Semuanya telah hafal Al-Qur’an, yakni dari anak-anak Abdullah, yang dilahirkan dari persetubuhan malam itu, yaitu malam wafatnya anak yang pertama, yaitu Abu Umair yang Nabi SAW mencandainya seraya berkata, ‘Hai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan anak burung pipit?”

Dalam riwayat lain (Riwayat ini disebutkan oleh Thahir bin Muhammad Al-Haddad dalam kitanya “Uyunul Majalis an Mu’awiyah bin Qurrah”. Lihat Baradul Akbad, hal. 25) disebutkan : “Ia berkata, Maka isterinya pun hamil mengandung anaknya, lalu anak itu ia beri nama Abdullah, lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam umatku orang yang memiliki kesabaran seperti kesabaran seorang wanita dari Bani Israil’. Kepada beliau ditanyakan, ‘Bagaiman beritanya wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Dalam Bani Israil terdapat wanita bersuami yang memiliki dua anak. Suaminya memerintahkannya menyediakan makanan untuk orang-orang yang ia undang. Para undangan berkumpul di rumahnya. Ketika itu kedua anaknya keluar untuk bermain, tiba-tiba mereka terjatuh ke dalam sumur dekat rumahnya. Sang isteri tidak hendak mengganggu suaminya bersama para tamunya, maka keduanya ia masukkan ke dalam rumah dan ditutupinya dengan pakaian. Ketika para undangan sudah pulang, sang suami masuk seraya bertanya, ‘di mana anak-anakku?’ Isterinya menjawab, ‘Di dalam rumah’. Ia lalu mengenakan minyak wangi dan menawarkan diri kepada suaminya, sehingga mereka melakukan jima’. Sang suami kembali bertanya, ‘Di mana anak-anakku?’ ‘Di dalam rumah’, jawab isterinya. Lalu sang ayah memanggil kedua anaknya. ‘Tiba-tiba mereka keluar memenuhi panggilan. Sang isteri terperanjat, ‘Subhanallah, Mahasuci Allah, demi Allah keduanya telah meninggal dunia, tetapi Allah menghidupkannya kembali sebagi balasan dari kesabaranku!

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

BAHKAN, KEPADA PEMABUK SEKALIPUN, ALLAH TAK MENGECUALIKAN KASIH-NYA

10 Februari 2007

Peristiwa ini dialami oleh Dzunun Al Misri. Suatu hari pakaian Dzunun Al Misri kotor dan ingin segera mencucinya. Maka pergilah ia kesungai Nil untuk maksudnya itu.

Tengah asyik-asyiknya ia mengucek ( mencucui ) pakaian, ia melihat ada seekor kalajengking besar dibatu-batu, dekat dengan tempat diamana ia duduk. Kalajengking ini telah siap menyengat daging tubuhnya, membuat Dzunun makin panik ketakutan.

Ditengah rasa cemasnya itu, berdoa`lah Dzunun kepada Allah. Ia memohon kiranya Allah S.W.T mau melindungi dirinya dari sengatan hewan itu.Doa`nya didengar Allah S.W.T. Tiba-tiba sang kalajengking tersebut berbalik dan menjauhi dirinya.

Kalajengking terus bergerak menyusuri tepian sungai. Dzunun tertarik perilaku hewan ini. Maka diikutilah kemana perginya kalajengking oleh Dzunun.

Kalajengking bergerak mendekati pepohonan rindang. Waktu Dzunun berada dekat tempat itu, ia terkejut karena disana, dibawah pohon tersebut, sedang terbaring seorang pemuda.

Dari posisi dan cara berbaringnya pemuda itu, tidak sulit untuk ditebak, ia adalah pemuda yang sedang mabuk berat. Sepertinya saja ia memerlukan untuk berbaring seperti itu saking beratnya mabuk yang ia alami. Kalajengking telah berada sangat dekat dengan pemuda itu. Melihat itu Dzunun jadi merasa amat khawatir, jangan-jangan sikalajengking akan menyengat sipemuda. Kalau itu terjadi, maka ia akan mati karena racun hewan ini.

Ditengah kecemasannya, Dzunun lebih terperanjat lagi. Betapa tidak, dekat sipemuda mabuk itu malah terdapat seekor ular yang tidak kalah besar dan berbahayanya dengan sikalajengking. Ular itu juga tengah siap untuk mematuk sipemuda.

Bagaimana kejadian selanjutnya ? Matikah pemuda itu dipatuk oleh ular dan disengat oleh kalajengking itu ? Peristiwa luar biasa terjadi. Ternyata sikalajengking dengan merayap perlahan-lahan mendekati kepala ular. Setelah dekat, melompatlah ia mendapati kepala ular dan seketika itu pula ular tersebut disengatnya, sehingga terkapar dan sesaat kemudian mati karena racun ganas sikalajengking.

Selesai menyengat ular, kalajengking berjalan menjauh, meninggalkan bangkai ular beserta tubuh sang pemuda yang sedang terbaring karena mabuk itu. Kalajengking terus bergerak menyusuri tepian sungai kembali dan Dzunun terus mengikutinya juga dari belakang. Setelah kalajengking jauh, Dzunun kembali ketempat sipemuda mabuk terbaring tadi. Kemudian bersyairlah ia ;

Wahai orang yang sedang kelelapan.
Yang Maha Agung selalu menjagakan.
Dari setiap kekejian yang menimbulkan kesesatan, mengapa sampai sipemilik mata ketiduran ?
Padahal, mata itu dapat mendatangkan berbagai kenikmatan.

Syair Dzunun ternyata membuat sipemuda mabuk terjaga.Setelah sipemuda sadar, maka Dzunun menceritakan kepadanya peristiwa yang ia saksikan tadi.

Pemuda itu mendengarkan penjelasan Dzunun dengan cermat. Ia merenungkan kejadian itu dalam-dalam. Kalbunya tersadar dan bertaubatlah ia kepada Allah S.W.T. Sipemuda menyadari, bahwa betapa Pengasihnya Allah kepada setiap hamba-Nya. Bahkan itu tak terkecuali kepada pemabuk seperti dirinya, Allah masih memberikan perlindungan dan memberi kesempatan baginya untuk bertaubat.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Al-Bashri dan Gadis Kecil

10 Februari 2007

Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak beraturan.

Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
“Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.”
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini.”

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

“Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?”

“Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?”

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

“Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, “Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?”

“Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?”

“Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?”

“Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?”

“Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, “Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Bicara dengan Hati, Allah Tetap Mengetahui

10 Februari 2007

Pada suatu hari Rasulullah mendapat berita yang mengagetkan tentang salah seorang sahabatnya. “Ia sedang mengalami sakaratul maut. Sudah kami talkin agar menyebut nama Allah, tetapi lidahnya bagai terkunci,” demikian tutur si pembawa kabar.

Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.

“Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah,” ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah,” desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.
“Katakanlah Allah,” Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.

Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.

“Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?”

Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. “Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya.”

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan komunikasi Islam Indonesia