Posts Tagged ‘pemikiran’

Linux bukan hanya milik programmer

8 Mei 2008

Dunia open source tengah berkembang kali ini, di indonesia sendiri di tandai dengan ramai nya milis-milis, forum, wiki dan kemunculan distro-distro yang di buat sendiri oleh anak bangsa. Belum genap seminggu BlankOn linux telah di rilis ke publik, BlankOn merupakan distro yang di buat oleh anak bangsa indonesia. Menurut catatan sejarah yang ada, distro yang istiqomah dan masih terus mengeluarkan rilis antara lain adalah BlankOn dan Debian depok.

Sesuatu yang dapat di banggakan sekali bagi rakyat indonesia karena indonesia dapat menghasilkan distro yang dapat di banggakan di dunia opensource. Proyek BlankOn sendiri bukan hanya terdiri dari programmer saja ada tim kesenian, tim infrastruktur, tim dokumentasi dan lainya.

ini menandakan bahwasanya di dunia opensource sendiri bukan hanya milik programmer saja bukan? saya banyak menemukan kasus baik itu di milis ataupun dalam chatting saya ada yang mengeluhkan tentang kemampuanya dalam dunia opensource dimana banyak yang beranggapan bahwa linux/opensource adalah milik programmer. ketika saya mengkomandoni tim dokumentasi pada BlankOn Konde banyak yang memahami bahwa untuk masuk tim BlankOn haruslah programmer, saya tau itu salah dan salah besar :D.

menjawab pertanyaan lewat email, memberikan solusi di milis, ikut aktif di forum, menyebarkan cd linux, atau hanya ikut menyemarakkan seminar linux merupakan salah satu wujud bentuk pertisipasi kita terhadap dunia opensource. Cukup hanya seperti itu kan?
saya punya teman di BlankOn Linux, namanya Alie Kusnadi dan Farhan perdana. kedua orang ini boleh di kata lebih suka mengotak-atik Inkshape dari pada melakukan coding, dengan itu kedua orang ini malah menjadi pionner di BlankOn linux! sungguh sesuatu yang di luar perkiraan kita bukan?

berangkat dari pemikiran di atas, maka mulai dari sekarang marilah kita memberikan karya kita ke dunia open source. dunia yang tak pedulu engkau apa, engkau dari mana
demikian dan tetap semangat! halah….

Berani kaga?

21 Desember 2007

Setelah membaca postingan tentang doraemon-cs dan feedbacknya… saya males nanggapi… itu hanya membuang waktu saya, saya memang suka film kartun tapi hanya untuk refresing saja biar kepala ga penat karena mengurusi masalah penting lainya

saya tidak akan menanggapi, si anton, si retorika dan lainya. tetapi yang menjadi pemberontakan saya adalah “kenapa setiap komentar harus melalui moderasi“?
MHS, Menurut hemat saya

tak apalah kita di caci dan di maki atau di puji oleh orang lain karena tindakan kita… itulah bentuk kejantanan kita.. seperti di blog saya, bahkan si HOAX pun masih saya perbolehkan, walaupun kemudian saya delete karena tidak ada manfaat… saya juga pernah di caci kok… lebih baik jangan nulis daripada kena cacian….

Segala cacian, makian, hinaan, delaan dan lain-lainya akan ku bekukan dalam otakku sehingga itu semua menjadikanku semangat yang baru
dan lebih bisa memahami arti dari kehidupan….
terima kasih bagi yang telah mencaciku, mencelaku, menghinaku, memakiku, dan lainya
sesungguhnya kalian adalah sumber inspirasiku…
Terima kasih…..

So, berani lepasin mode komentar jadi mode free?

Cinta Kepada Allah

23 April 2007

Cinta Kepada Allah

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

——————————————————————————–

Firman Allah Ta’ala (artinya):

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat sembahan-sembahan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”.” (Bara’ah/At-Taubah: 24)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api.”

Dan disebutkan dalam riwayat lain: “Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum…” dst.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia berkata:

“Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, sekalipun banyak shalat dan shiyamnya, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan di antara manusia pada umumnya didasarkan atas kepentingan dunia, namun hal itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka.”

Ibnu ‘Abbas, dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala: “… dan putuslah hubungan antara mereka sama sekali.” (Al-Baqarah: 166), ia mengatakan: “yaitu kasih sayang.”

Kandungan tulisan ini:

Tafsiran ayat dalam surah Al-Baqarah. Ayat ini menunjukkan barangsiapa mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya seperti mencintai Allah maka dia adalah musyrik.
Tafsiran ayat dalam surah Bara’ah/At-Taubah. Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan di atas segala-galanya.
Wajib mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih daripada kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda.
Pernyataan “tidak beriman”, bukan berarti keluar dari Islam, (tetapi artinya ialah tidak beriman sempurna).
Bahwa iman ada rasa manisnya, kadangkala dapat diperoleh seseorang dan kadangkala tidak.
Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kewalian dari Allah, dan seseorang tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman kecuali dengan keempat sikap itu.
Pemahaman Ibn ‘Abbas terhadap realita, bahwa hubungan persahabatan pada umumnya didasarkan atas kepentingan duniawi.
Tafsiran ayat: “… dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali.” Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang yang telah dibina orang-orang musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akherat, dan masing-masing dari mereka akan melepaskan diri darinya.
Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat.
Ancaman terhadap seseorang yang kedelapan perkara tersebut di atas (orang tua, anak-anak, saudara, isteri, kaum keluarga, harta kekayaan, perniagaan dan tempat tinggal) lebih dicintainya daripada agamanya.
Memuja selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah, itulah syirik akbar.
Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Tiada Seorangpun Yang Berhak Disembah Selain Allah

23 April 2007

Tiada Seorangpun Yang Berhak Disembah Selain Allah

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
——————————————————————————–

Firman Allah Ta’ala (artinya):
“Patutkah mereka berbuat syirik (dengan menyembah selain Allah) yang tak dapat menciptakan apa-apa? Padahal selain Allah itu adalah ciptaan(Nya). Dan sembahan-sembahan selain Allah itu tidak mampu memberi pertolongan kepada orang-orang musyrik, dan kepada dirinya sendiri pun sembahan-sembahan itu tidak dapat memberi pertolongan.” (Al-A’raf: 191-192)

“… Dan sembahan-sembahan yang kamu seru, selain Allah, tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruanmu itu; kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu; dan pada hari Kiamat mereka mengingkari kemusyrikanmu, dan tiada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir: 13-14)

Diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari Anas Radhiyallahu ‘anhu katanya: “Pada waktu peperangan Uhud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka di bagian kepala dan gigi taringnya. Maka beliau bersabda: “Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka?” Lalu turun ayat: “Tak ada apa-apa bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka itu. (Ali Imran: 128).”

Dan diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari), dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah terluka di bagian kepala dan gigi taringnya sewaktu perang Uhud) berdoa tatkala mengangkat kepalanya dari ruku’ pada rakaat terakhir dalam shalat shubuh: “Ya Allah! Laknatilah si fulan dan si fulan”, yaitu seusai beliau mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd.”

Sesudah itu Allah pun menurunkan firman-Nya: “Tak ada hak apapun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka itu.”

Dan menurut riwayat lain: “Beliau mendoakan semoga Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr dan Al-Harits bin Hisyam dijauhkan dari rahmat Allah”. Maka turunlah ayat: “Tak ada hak apapun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka itu.”

Diriwayatkan pula dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ketika diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ayat: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara’: 214) berdirilah beliau dan bersabda: “Wahai segenap kaum Quraisy, tebuslah diri kamu sekalian (dari siksa Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya). Sedikitpun aku tak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib! Sedikitpun aku tak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Sedikitpun aku tak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Dan Wahai Fathimah puteri Muhammad! Mintalah kepadaku apa yang kamu inginkan dari hartaku. Sedikitpun aku tak berguna bagi dirimu di hadapan Allah.”

Kandungan tulisan ini:

Tafsiran kedua ayat tersebut di atas. Kedua ayat tersebut menunjukkan kebatilan syirik mulai dari dasarnya, karena makhluk yang lemah ini, yang tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, tak dapat dijadikan sebagai sandaran sama sekali; dan menunjukkan pula bahwa Allah-lah yang berhak dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia.
Kisah perang Uhud.
Rasulullah, Pemimpin para rasul, dalam shalat Shubuh telah melakukan qunut sedang para sahabat yang berada di belakang beliau mengucapkan “amin”.
Orang-orang yang beliau doakan semoga Allah menjauhkan mereka dari rahmat-Nya adalah orang-orang kafir.
Orang-orang kafir itu telah berbuat hal-hal yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang kafir, antara lain: melukai nabi dan berambisi sekali untuk membunuh beliau serta mereka merusak tubuh para korban yang terbunuh, padahal korban-korban tersebut adalah sanak famili mereka sendiri.
Tentang perbuatan mereka itu, Allah telah menurunkan firman-Nya kepada beliau: “Tak ada hak apapun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka itu.”
Allah Ta’ala berfirman: “Atau Allah menerima taubat mereka, atau menyiksa mereka.” (Al-Imran: 12 8)
Melakukan qunut nazilah, yaitu qunut yang dilakukan ketika berada dalam keadaan mara bahaya.
Menyebutkan nama-nama beserta nama-nama orang tua mereka yang didoakan terlaknat di dalam shalat, tidak membatalkan shalat.
Boleh melaknat terhadap orang kafir tertentu dalam qunut.
Kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala diturunkan kepada beliau ayat: “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.”
Kesungguhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini, sehingga beliau melakukan sesuatu yang menyebabkan dirinya dituduh gila; demikian halnya apabila dilakukan oleh seorang muslim pada masa sekarang ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan keluarga yang paling jauh kemudian yang terdekat, dengan bersabda: “Sedikit pun aku tak berguna bagi dirimu di hadapan Allah”, sampai beliau bersabda kepada puterinya sendiri: “Wahai Fathimah puteri Muhammad, sedikitpun aku tak berguna bagi dirimu di hadapan Allah.”
Apabila beliau telah memaklumatkan secara terang-terangan, padahal beliau adalah Pemimpin para rasul, bahwa beliau sedikitpun tak berguna bagi diri puterinya sendiri, wanita termulia sealam ini; dan orangpun mengimani bahwa beliau tidak mengatakan kecuali yang haq, kemudian dia memperhatikan apa yang terjadi pada diri kaum khawash (yaitu orang-orang yang ditokohkan dalam masalah agama dan merasa bahwa dirinya patut diikuti, disegani dan diminta berkah doanya dewasa ini) akan tampak baginya bahwa tauhid sudah ditinggalkan dan tuntunan agama menjadi asing.

Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Jangan Takut Kena masalah

22 April 2007

by udienz

Ada kalanya seseorang dalam hidupnya canggung ketika hidup, kenapa? Kebiasaan untuk berani mengambil resiko masih jarang di perbincangkan oleh masayarakat kita. Saya teringat ketika saya dulu KKN, dimana Sekretaris LPM yang bernama Pak Hamid pernah berkata bahwasanya dikatakan konyol apabila hidup ini tidak ada masalah. Kata kata Pak Hamid ini sungguh menusuk saya, tapi ada benarnya juga! Hidup ini adalah masalah, sejak kita lahir ke dunia ini kita sudah memberikan tambahan masalah kepada Orang tua kita. Bapak dan Ibu kita harus meluangkan waktunya yang sedemikian padatnya untuk di sisihkan kepada kita yang masih kecil dan tidak bisa apa-apa. Ketika mengankad dewasa pun Orang Tua kita harus repot-repot memilihkan Sekolah yang baik buat kita, namun di balik itu semua ada pertanyaan kenapa sih Orang Tua kita mau?
Di sini saya akan mencoba menjadi memahami pemikiran Orang Tua. baik kita mulai dari Sepasang manusia yang kasmaran yang kemudian di lanjutkan dengan pernikahan, melahirkan anak, mengasuh anak, bekerja dan mati. Rentetan siklus itu adalah perjalanan hidup dimana hasilnya adalah kenyamanan hidup dimana kenyamanan hidup akan di peroleh apabila kita bisa mengatasi masalah. Kembali ke Orang Tua, Orang Tua kita dengan senang hati membimbing dan mengasuh kita, kenapa? karena ini adalah tanggung jawab dari sebuah tindakan. Tindakan terjadi karena manusia berfikir dan bergerak, jadi masalah terjadi karena manusia hidup. Gampanganya masalah akan datang bila kita hidup.
dan bagimana bila kita berjumpa dengan masalah yang begitu ruwet? Menurut pengalaman saya Berdoa kepada-Nya adalah solusi yang tepat, namun perlu di ingat tidak sekedar berdoa tapi harus di sertai dengan tindakan (tawakkal). anda jangan takut bila terkena masalah, karena semua masalah datangnya dari Allah. Mungkin saja Allah sedang menguji kita, senang sekali donk apabila Allah menguji kita, Allah menguji kita agar dapat lolos ke level yang lebih tinggi. Apa bila Allah tidak sedang menguji maka Allah sedang menghukum kita, hmmm…. yang namanya di hukum pastilah kita di harapkan lebih baik agar kesalahan kita diampuni.
jadi jangan takut kena masalah! mengutip kata kata dari Denis Waitley yaitu Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan; tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa dan tidak menjadi apa-apa. kalo begitu kenapa takut kena masalah.

Ya tuhanku

3 April 2007

ya tuhanku
ketika aku meminta kekuatan
engkau memberiku kelemahan
hingga aku tau nikmatnya mempunyai kelemahan

ya tuhanku
ketika aku meminta kecerdasan
engkau memberiku kelupaan
hingga aku tau untuk senantiasa belajar

ya tuhanku
ketika aku meminta harta
engkau memberiku hutang
hingga aku dapat belajar memanajemen uang

ya tuhanku
ketika aku meminta kesehatan
engkau memberiku penyakit
hingga aku dapat belajar untuk tidak sakit

ya tuhanku
kenapa engkau tidak mengabulkan doaku
justru engkau memberiku lebih
semua doaku tidak semuanya engkau kabulkan
tapi..engkau mengajariku kenapa doaku terkabul

Balasan Kesabaran

10 Februari 2007

Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata : “Anak laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Salamah meninggal dunia. Maka isterinya berkata kepada keluarganya, ‘Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang kematiannya, sampai aku sendiri yang mengabarkannya!’ Anas bin Malik berkata, ‘Abu Thalhah datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan dan minum’, Anas berkata, ‘Sang isteri kemudian berdandan indah bahkan lebih indah dari waktu-waktu yang sebelumnya. Setelah dia merasa bahwa Abu Thalhah telah kenyang dan puas dengan pelayanannya, sang isteri bertanya, ‘Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya, apakah mereka berhak menolaknya?’ Ia berkata, ‘Tidak (berhak)!’ ‘Jika demikian, maka mintalah pahalanya kepada Allah tentang puteramu (yang telah diambilnya kembali)!, kata sang isteri. Suaminya menyergah, ‘Engkau biarkan akau, sehingga aku tidak mengetahui apa-apa, lalu engkau beritakan tentang (kematian) anakku?’ Setelah itu, ia berangkat mendatangi Rasulullah SAW lalu ia ceritakan apa yang telah terjadi. Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Semoga Allah memberkahi kalian berdua tadi malam’. Anas berkata, ‘Lalu isterinya mengandung dan melahirkan seorang anak. Kemudian Abu Thalhah berkata kepadaku, ‘Bawalah dia kepada Nabi SAW’. Lalu aku bawakan untuknya beberapa buah kurma. Nabi SAW lalu mengambil anak itu seraya berkata, ‘Apakah dia membawa sesuatu?’ Mereka berkata, ‘Ya, beberapa buah kurma’, Nabi SAW kemudian mengambilnya dan mengunyahnya, lalu diambilnya dari mulutnya, kemudian diletakkannya di mulut bayi itu dan beliau menggosok-gosokkannya pada langit-langit mulut bayi tiu, dan beliau menamainya Abdullah.” (HR. Al-Bukhari, 9/587 dalam Al-Aqiqah, Muslim no. 2144).

Dalam riwayat Al-Bukhari, Sufyan bin Uyainah berkata : “Seorang laki-laki dari shahabat Anshar berkata, ‘Aku melihat mereka memiliki sembilan anak. Semuanya telah hafal Al-Qur’an, yakni dari anak-anak Abdullah, yang dilahirkan dari persetubuhan malam itu, yaitu malam wafatnya anak yang pertama, yaitu Abu Umair yang Nabi SAW mencandainya seraya berkata, ‘Hai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan anak burung pipit?”

Dalam riwayat lain (Riwayat ini disebutkan oleh Thahir bin Muhammad Al-Haddad dalam kitanya “Uyunul Majalis an Mu’awiyah bin Qurrah”. Lihat Baradul Akbad, hal. 25) disebutkan : “Ia berkata, Maka isterinya pun hamil mengandung anaknya, lalu anak itu ia beri nama Abdullah, lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam umatku orang yang memiliki kesabaran seperti kesabaran seorang wanita dari Bani Israil’. Kepada beliau ditanyakan, ‘Bagaiman beritanya wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Dalam Bani Israil terdapat wanita bersuami yang memiliki dua anak. Suaminya memerintahkannya menyediakan makanan untuk orang-orang yang ia undang. Para undangan berkumpul di rumahnya. Ketika itu kedua anaknya keluar untuk bermain, tiba-tiba mereka terjatuh ke dalam sumur dekat rumahnya. Sang isteri tidak hendak mengganggu suaminya bersama para tamunya, maka keduanya ia masukkan ke dalam rumah dan ditutupinya dengan pakaian. Ketika para undangan sudah pulang, sang suami masuk seraya bertanya, ‘di mana anak-anakku?’ Isterinya menjawab, ‘Di dalam rumah’. Ia lalu mengenakan minyak wangi dan menawarkan diri kepada suaminya, sehingga mereka melakukan jima’. Sang suami kembali bertanya, ‘Di mana anak-anakku?’ ‘Di dalam rumah’, jawab isterinya. Lalu sang ayah memanggil kedua anaknya. ‘Tiba-tiba mereka keluar memenuhi panggilan. Sang isteri terperanjat, ‘Subhanallah, Mahasuci Allah, demi Allah keduanya telah meninggal dunia, tetapi Allah menghidupkannya kembali sebagi balasan dari kesabaranku!

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

BAHKAN, KEPADA PEMABUK SEKALIPUN, ALLAH TAK MENGECUALIKAN KASIH-NYA

10 Februari 2007

Peristiwa ini dialami oleh Dzunun Al Misri. Suatu hari pakaian Dzunun Al Misri kotor dan ingin segera mencucinya. Maka pergilah ia kesungai Nil untuk maksudnya itu.

Tengah asyik-asyiknya ia mengucek ( mencucui ) pakaian, ia melihat ada seekor kalajengking besar dibatu-batu, dekat dengan tempat diamana ia duduk. Kalajengking ini telah siap menyengat daging tubuhnya, membuat Dzunun makin panik ketakutan.

Ditengah rasa cemasnya itu, berdoa`lah Dzunun kepada Allah. Ia memohon kiranya Allah S.W.T mau melindungi dirinya dari sengatan hewan itu.Doa`nya didengar Allah S.W.T. Tiba-tiba sang kalajengking tersebut berbalik dan menjauhi dirinya.

Kalajengking terus bergerak menyusuri tepian sungai. Dzunun tertarik perilaku hewan ini. Maka diikutilah kemana perginya kalajengking oleh Dzunun.

Kalajengking bergerak mendekati pepohonan rindang. Waktu Dzunun berada dekat tempat itu, ia terkejut karena disana, dibawah pohon tersebut, sedang terbaring seorang pemuda.

Dari posisi dan cara berbaringnya pemuda itu, tidak sulit untuk ditebak, ia adalah pemuda yang sedang mabuk berat. Sepertinya saja ia memerlukan untuk berbaring seperti itu saking beratnya mabuk yang ia alami. Kalajengking telah berada sangat dekat dengan pemuda itu. Melihat itu Dzunun jadi merasa amat khawatir, jangan-jangan sikalajengking akan menyengat sipemuda. Kalau itu terjadi, maka ia akan mati karena racun hewan ini.

Ditengah kecemasannya, Dzunun lebih terperanjat lagi. Betapa tidak, dekat sipemuda mabuk itu malah terdapat seekor ular yang tidak kalah besar dan berbahayanya dengan sikalajengking. Ular itu juga tengah siap untuk mematuk sipemuda.

Bagaimana kejadian selanjutnya ? Matikah pemuda itu dipatuk oleh ular dan disengat oleh kalajengking itu ? Peristiwa luar biasa terjadi. Ternyata sikalajengking dengan merayap perlahan-lahan mendekati kepala ular. Setelah dekat, melompatlah ia mendapati kepala ular dan seketika itu pula ular tersebut disengatnya, sehingga terkapar dan sesaat kemudian mati karena racun ganas sikalajengking.

Selesai menyengat ular, kalajengking berjalan menjauh, meninggalkan bangkai ular beserta tubuh sang pemuda yang sedang terbaring karena mabuk itu. Kalajengking terus bergerak menyusuri tepian sungai kembali dan Dzunun terus mengikutinya juga dari belakang. Setelah kalajengking jauh, Dzunun kembali ketempat sipemuda mabuk terbaring tadi. Kemudian bersyairlah ia ;

Wahai orang yang sedang kelelapan.
Yang Maha Agung selalu menjagakan.
Dari setiap kekejian yang menimbulkan kesesatan, mengapa sampai sipemilik mata ketiduran ?
Padahal, mata itu dapat mendatangkan berbagai kenikmatan.

Syair Dzunun ternyata membuat sipemuda mabuk terjaga.Setelah sipemuda sadar, maka Dzunun menceritakan kepadanya peristiwa yang ia saksikan tadi.

Pemuda itu mendengarkan penjelasan Dzunun dengan cermat. Ia merenungkan kejadian itu dalam-dalam. Kalbunya tersadar dan bertaubatlah ia kepada Allah S.W.T. Sipemuda menyadari, bahwa betapa Pengasihnya Allah kepada setiap hamba-Nya. Bahkan itu tak terkecuali kepada pemabuk seperti dirinya, Allah masih memberikan perlindungan dan memberi kesempatan baginya untuk bertaubat.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Al-Bashri dan Gadis Kecil

10 Februari 2007

Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak beraturan.

Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
“Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.”
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini.”

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

“Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?”

“Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?”

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

“Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, “Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?”

“Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?”

“Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?”

“Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?”

“Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, “Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Bicara dengan Hati, Allah Tetap Mengetahui

10 Februari 2007

Pada suatu hari Rasulullah mendapat berita yang mengagetkan tentang salah seorang sahabatnya. “Ia sedang mengalami sakaratul maut. Sudah kami talkin agar menyebut nama Allah, tetapi lidahnya bagai terkunci,” demikian tutur si pembawa kabar.

Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.

“Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah,” ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah,” desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.
“Katakanlah Allah,” Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.

Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.

“Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?”

Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. “Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya.”

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan komunikasi Islam Indonesia